UMKM Kalsel Naik Kelas, Sutjipto (Ketua Hipmikindo Kalsel) : “Senior Dan Junior Bergabunglah Jadi Satu”

BANJARMASIN - Era digitalisasi, maka UMKM digital, sehingga pelatihan mengenai Digital Marketing, tegas Sutjipto, selaku Ketua Himpunan Pengusaha Mikro kecil Indonesia (Hipmikindo) Kalsel, hukumnya wajib.

Dikatakan, hal ini termasuk untuk laporan keuangan, transparansi dan pemisahan antara uang usaha dengan uang pribadi, semuanya wajib. Sehingga untuk para Pebisnis Pemula disarankan, agar merubah mindset mana uang pribadi dan mana uang usaha.

“Kalau memang kekurangan modal usaha dan masih ada uang pribadi, catat sebagai pinjaman. Bukan sekedar dipakai. Kalau dipakai nanti, pasti tidak ada kejelasan, karena uang saya juga. Tapi dalam pembukuan yang benar, ada pemisahan antara uang pribadi dengan uang usaha,” tegas Sutjipto, Minggu (7/5/2023) saat ditemui di kediamannya.

Ditegaskan, dalam urusan digitalisasi yang saat ini banyak aplikasi yang memberikan pengetahuan pencatatan keuangan, rugi laba, hingga resiko stok barang.

Sutjipto memberikan nasehat kepada Pebisnis Pemula, katanya : “Untuk Pebisnis Pemula harus selalu belajar. Paling tidak harus melek teknologi. Bisa belajar dari Youtube, Facebook, literasi dan bisa juga ikut pelatihan-pelatihan di Dinas Koperasi dan UKM, baik Kota maupun Provinsi, rutin melaksanakan.” Dengan bekomunitas, maka jika ada pelatihan, UMKM tersebut akan dilibatkan.

Untuk Para Pelaku Usaha yang sudah mumpuni keilmuan dan pengalamannya, Sutjipto berharap, untuk berbagi dan membuat kelas-kelas pelatihan mengikut jejak Dinas Koperasi dan UKM, yang mengajak para Mentor untuk memberikan pelatihan pada Pelaku UMKM Pemula agar bisa melek. Karena kendala selama ini, pelaku UMKM merasakan dalam hal Permodalan dan Pemasaran. Juga harus bisa membedakan antara modal usaha dengan modal investasi.

“Modal ini harus dipikirkan. Yang diperlukan modal investasi atau modal usaha. Kalau modal usaha digunakan untuk modal inevstasi, habis tidak bisa bergerak. Karena uang terbatas itu digunakan untuk sewa tempat, beli peralatan, beli alat transportasi. Setelah itu kebingungan tidak punya modal lagi,” tegas Sutjpto.

Modal investasi memperhatikan lamanya jangka waktu sewa. Sedangkan untuk renovasi, dicatat juga waktu kembali uang tersebut. Sementara itu, untuk pembelian alat transportasi, pengembalian dananya juga menjadi catatan dan perhatian. Kemudian setelah mengetahui modal investasi, menyiapkan modal kerja (usaha) yang memperhatikan biaya tenaga kerja atau biaya operasional. Sehingga penyiapan permodalan sejak dini tersebut benar-benar menjadi perhatian serius bagi Pebisnis Pemula. Jangan sampai, baru memulai, gaji karyawan tidak terbayar, listrik, internet dan pembayaran supplier jadi terganggu karena kurangnya persiapan tersebut.

Kalau tidak memiliki kemampuan tersebut, Sutjipto menyarankan memulai usaha dengan kolaborasi bersama beberapa teman lainnya, yang bersarikat atau berkumpul dan mendirikan koperasi, yang cukup 9 orang, sudah dapat mendirikan sebuah koperasi.

“UMKM yang mampu, dirikan koperasi bersama-sama, yang penting ada perizinan. Kalau bicara produksi, berarti dirikan Koperasi Produsen. Beli produk dan diproduksi sama-sama, modal bersama dan dipasarkan sama-sama. Saya rasa ini mungkin lebih dapat perhatian dari Pemerintah dan lebih ringan dari pada sendiri dengan modal yang pas-pasan,” nasehat Sutjipto.

Dalam pengembangan UMKM juga ada upaya mewujudkan Klaster  yang memilki kekuatan dengan adanya Ketua Kelompok yang mengelola dana yang dimiliki para anggota, yang kemudian membagikan tugas masing-masing.

Sutjipto memberikan Contoh klaster pembuatan krupuk. Yang mendapatkan pesanan banyak, diproduksi bersama-sama, lebih meringankan dari pada sendirian.  Juga dalam kerjasama dengan pihak lain, dapat dilakukan dengan baik.

Dengan klaster itu, dapat melaksanakan kegiatan dengan lebih mudah, termasuk bisa mendapatkan diskon dari toko, kemudahan dan keringanan tempo jatuh waktu pembayaran, hingga ongkos  kirim gratis.

“Jadi dengan kolaborasi, itu akan memudahkan semuanya dan bisa mengefesiensikan. Saya harapkan, itu segera dimulai. Juga penggabungan Junior dan Senior bergabung jadi satu. Sehingga UMKM di Kalsel bisa  tumbuh kembang dan bisa naik kelas,” pungkasnya.[Junaidi]
Lebih baru Lebih lama